
Cirebon, 17 September 2025 — Sekretariat APPIK (Asosiasi Pemberdayaan Purna Migran Indonesia Korea) menerima kunjungan resmi dari Kantor Staf Presiden (KSP). Dalam kunjungan tersebut hadir pula perwakilan dari Biro Perencanaan Kementerian P2MI, yang turut mendampingi agenda dialog dengan para purna migran dari berbagai negara penempatan.
Rombongan dipimpin oleh Brigjen TNI (Purn) Ferdy F. F. Wewengkang, perwakilan dari Kantor Staf Presiden. Kehadirannya disambut hangat oleh Sekretaris Jenderal APPIK, Didi Kusnadi, yang juga dikenal sebagai pemilik brand Mawar Fashion, salah satu UMKM purna migran yang telah berkembang di Cirebon. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi APPIK untuk memperkuat komunikasi antara purna migran dengan pemerintah, khususnya dalam merancang model pemberdayaan yang lebih tepat sasaran.
Dalam sesi diskusi, Brigjen TNI (Purn) Ferdy F. F. Wewengkang menekankan pentingnya skema pemberdayaan berbasis komunitas. Menurutnya, pola tersebut dinilai lebih realistis karena tumbuh dari kebutuhan langsung purna migran dan memiliki keterhubungan sosial yang kuat. “Model yang paling tepat adalah dengan penyaluran pemberdayaan berbasis komunitas. Komunitas purna migran sudah memiliki kedekatan emosional dan pengalaman yang sama, sehingga program akan lebih mudah dijalankan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Diskusi berlangsung cair dan produktif. Hadir pula sejumlah purna migran dari berbagai negara penempatan, antara lain Arab Saudi, Taiwan, Jepang, serta para anak buah kapal (ABK) dan purna migran dari Korea Selatan. Mereka menyampaikan beragam pengalaman, tantangan, hingga harapan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Para peserta menggarisbawahi bahwa purna migran memiliki keahlian dan pengalaman nyata yang bisa menjadi sumber belajar bagi calon pekerja migran. Oleh karena itu, Brigjen Ferdy mendorong agar dalam setiap Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP), materi disampaikan langsung oleh purna migran yang sudah pernah merasakan detail kerja di luar negeri. “Mereka bukan hanya menyampaikan teori, tetapi juga pengalaman riil. Ini akan sangat membantu calon pekerja migran untuk lebih siap,” tambahnya.
Sementara itu, Didi Kusnadi menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap eksistensi APPIK. Ia menekankan bahwa purna migran bukan sekadar mantan pekerja di luar negeri, melainkan agen pembangunan yang dapat berkontribusi nyata di dalam negeri. “Kami ingin APPIK menjadi ruang silaturahmi sekaligus pusat pengembangan potensi purna migran. Dengan dukungan pemerintah, kami yakin purna migran bisa mandiri, berdaya, dan menjadi contoh sukses bagi masyarakat,” ungkapnya.
Kunjungan ini menegaskan komitmen Kantor Staf Presiden untuk membuka ruang dialog langsung dengan komunitas akar rumput, sekaligus merumuskan kebijakan yang berpihak pada purna migran. Diharapkan hasil pertemuan ini menjadi langkah awal kolaborasi lebih luas antara APPIK, pemerintah pusat, dan lembaga terkait lainnya.

Dengan semangat kebersamaan, APPIK meneguhkan diri untuk terus berperan sebagai wadah aspirasi, pemberdayaan, dan penguatan ekonomi purna migran Indonesia, agar mereka tidak hanya dikenal sebagai pekerja di luar negeri, tetapi juga sebagai penggerak pembangunan di tanah air.