
Cirebon, 17 September 2025 — Kantor Staf Presiden (KSP) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Rangkaian kunjungan dipimpin langsung oleh Brigjen TNI (Purn) Ferdy F. F. Wewengkang, bersama perwakilan dari Kementerian P2MI. Setelah mengunjungi Sekretariat APPIK (Asosiasi Pemberdayaan Purna Migran Indonesia Korea), rombongan melanjutkan agenda ke Komplek Pondok Pesantren Al Jauhariyah Balerante.
Salah satu tokoh yang mendapat perhatian khusus dalam kunjungan ini adalah Zaenudin, seorang purna migran asal Korea Selatan yang kini mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Dari hasil sebagai pekerja migran Indonesia, Iamendirikan Pesantren Az Zahra, yang berlokasi di lingkungan Ponpes Balerante Al Jauhariyah. Saat ini, komplek pesantren tersebut menaungi tidak kurang dari 2.000 santri dari berbagai daerah.
Dalam sesi dialog, Zaenudin menceritakan pengalamannya membangun pesantren dengan semangat keikhlasan dan pemahaman terhadap kehidupan pekerja migran. Ia menuturkan, pernah ada wali santri yang merupakan pekerja migran di Taiwan menitipkan anaknya hingga lima bulan telat membayar biaya pendidikan. Namun, hal itu sama sekali tidak dipermasalahkan. “Saya tahu bagaimana susahnya hidup di negeri orang. Dititipkan ke pesantren saja sudah membuat bahagia, karena anak-anak pekerja migran bisa terurus, pendidikannya tercukupi, dan ilmu agamanya terlindungi,” ujar Zaenudin.
Pernyataan tersebut mendapat apresiasi mendalam dari Brigjen TNI (Purn) Ferdy F. F. Wewengkang. Ia menilai bahwa pesantren seperti ini seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, karena mampu menjawab kebutuhan mendasar keluarga pekerja migran. “Harusnya pemerintah hadir untuk pesantren model begini. Pak Prabowo hatinya lembut, apalagi untuk anak-anak. Seandainya beliau tahu bahwa ada anak-anak pahlawan devisa yang tidak berkecukupan, bahkan terancam salah pergaulan sampai masuk genk motor, tentu beliau akan sangat sedih. Pendidikan model pesantren ini yang paling tepat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ferdy meminta Kementerian P2MI agar menindaklanjuti hasil kunjungan dengan merumuskan role model pesantren berbasis pemberdayaan migran. Menurutnya, pola ini bisa dikembangkan di daerah-daerah kantong pekerja migran, seperti Kabupaten Cirebon, sehingga para keluarga migran mendapatkan kepastian bahwa anak-anak mereka tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang aman, religius, dan berkualitas.
Kunjungan KSP ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur pemberdayaan ekonomi purna migran melalui APPIK, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan pendidikan. Hal ini menjadi penegasan bahwa pemberdayaan purna migran tidak bisa dilepaskan dari dukungan keluarga, terutama anak-anak yang ditinggalkan di tanah air.
Acara tersebut turut dihadiri oleh anggota APPIK yang mendampingi jalannya dialog. Diskusi berlangsung santai, namun penuh makna. Para peserta menyampaikan pandangan bahwa kehadiran pesantren yang dibangun oleh purna migran adalah bukti nyata kontribusi mereka untuk bangsa. Model ini diyakini mampu menjadi inspirasi di berbagai daerah, sekaligus memberikan solusi nyata bagi pekerja migran Indonesia yang masih aktif di luar negeri.

Kunjungan ini menandai komitmen KSP untuk terus hadir mendengar suara masyarakat akar rumput, terutama purna migran yang memiliki semangat mengabdi setelah kembali ke tanah air. Dengan sinergi bersama pemerintah, pesantren seperti Az Zahra diharapkan dapat menjadi contoh nasional bagaimana purna migran tidak hanya sukses di perantauan, tetapi juga mampu membangun peradaban melalui pendidikan.